Saya Sudah Pernah Bercerita Tentang Melepas Tukik Dan Bagaimana Kondisi Populasi Penyu Saat Ini Terancam. Ada Yang Bilang, Jika Ingin Mencintai Alam Maka Kita Mesti Melihat Dengan Mata Sendiri, Mendengar Dengan Telinga Sendiri Dan Menyaksikan Apa Yang Alam Ini Miliki Untuk Kita.

Penyu bertelur via http://marischkaprudence.blogspot.co.id/

Melihat penyu bertelur adalah pengalaman yang seru, sekaligus membuat kita berpikir tentang betapa mengagumkannya alam. Betapa siklus hidup dan putaran alami kehidupan untuk menjaga spesies tetap ada.

Di Pulau Sangalaki, Kepulauan Derawan ada lokasi yang pada masa masa tertentu selalu didatangi penyu, terutama penyu hijau, untuk bertelur. Pulau Sangalaki ini masuk area konservasi sehingga tidak ada penduduk di pulau ini. Hanya ada pos petugas penjaga dan beberapa unit resort yang terbilang baru.

Bahkan, di Pulau Sangalaki tidak ada dermaga, kapal hanya dirapatkan di dekat batas air. Perairan di area Sangalaki pun sangat jernih. Saya ingat tiba di pulau ini pada malam hari dan terkesima dengan betapa beningnya air saat saya menyorotkan cahaya senter ke laut.

Namun tentu saja pesona utama Pulau Sangalaki adalah datangnya penyu untuk melangsungkan kehidupan generasi mereka di masa mendatang. Puncak penyu bertelur di Pulau Sangalaki adalah di bulan Agustus. “Sehari bisa sampai seratus penyu naik ke pulau ini,” ujar Pak Lipu, penjaga pos dan petugas konservasi di Pulau Sangalaki. Saya tidak dapat membayangkan di pulau sekecil ini seratus penyu berbondong bondong bertelur. Ah, well, sometimes you gotta see it to believe it don’t you?

Doing a bit of sand bath after spawning

Kami pun masuk ke area pos dan melihat ratusan tukik – anak penyu – di beberapa ember besar. “Mereka kami lepas besok,” ujar Pak Lipu lagi. Saya bersemangat karena melepas tukik selalu jadi momen menyenangkan, tanpa saya sadari ada hal yang jauh lebih menyenangkan menanti saya.

Malam hari sekitar pukul 10 malam Pak Lipu memanggil kami. Saya dan teman teman membawa senter dan bergegas keluar pos. Saya mengikuti Pak Lipu yang berjalan sangat cepat. “Yang ini sudah selesai bertelur,” ujar Pak Lipu sambil memberi kode bahwa kami boleh mendekat dan menyalakan senter.

a gentle touch after she laid some eggs via http://marischkaprudence.blogspot.co.id/

Penyu sensitif dalam memilih tempat bertelur. Jika ia melihat cahaya dan gangguan sebelum ia mulai bertelur maka penyu itu akan pergi kembali ke laut dan menunggu waktu lain untuk bertelur. Namun, saat penyu sudah mulai bertelur, kita dapat mendekat dan mengamati langsung.

Penyu yang kami temui pertama kali sudah selesai bertelur. Penyu ini sedang “mandi pasir,” yaitu melempar lemparkan pasir hingga sebagian pasir menutupi tempurungnya. Setelah beristirahat penyu ini akan kembali ke laut sambil meninggalkan jejak seperti kendaraan tank mini di pasir.

Beberapa kali kami menemukan penyu yang sudah selesai bertelur. Hingga belasan penyu yang kami temukan, saya mulai berpikir mungkin belum jodoh untuk melihat penyu bertelur karena semuanya sudah selesai dan sedang mandi pasir. Namun, tiba tiba Pak Lipu memanggil lagi, kali ini ia menemukan penyu yang sedang bertelur. Saya langsung berlari tidak mau saat saya datang ternyata sudah selesai.

Penyu hijau yang kami temukan ini masih bertelur. Ia membuat lubang dengan kedalaman sekitar 60 sentimeter dan bertelur perlahan. Kami memperhatikan dari bagian belakang dan melihat telur keluar satu persatu, sangat seru 🙂

Sambil bertelur penyu ini juga mendengus mengeluarkan napas seperti kelelahan. Dari matanya juga keluar air, seakan akan menangis, tapi bukan seperti manusia ia menangis. Penyu memiliki kelenjar yang bermuara ke mata mereka. Kelenjar ini membantu mengeluarkan garam yang terkumpul saat penyu berada di laut, dan saat di darat, air dengan kadar garam yang keluar ini juga membantu menahan agar pasir tidak masuk ke mata penyu.

Penyu termasuk binatang yang lama mencapai taraf dewasa secara seksual, di usia 30 hingga 50 tahun baru penyu bisa bertelur. Siklus bertelur penyu juga sekitar 2 hingga 8 tahun sekali, namun dalam masa tersebut ia dapat bertelur 6 kali dalam rentang waktu 3 bulan.

Setiap bertelur penyu bisa mengeluarkan 100 hingga 130 butir telur, namun secara alami yang dapat bertahan hingga ke laut hanya belasan tukik saja, yang kemudian dengan seleksi alam akan berkurang lagi di lautan lepas.

Predator tukik beragam mulai dari burung, kepiting, tikus, ikan besar di lautan dan tentu saja predator yang paling mengancam populasi penyu adalah manusia. I hope by seeing how they lay their eggs and how amazing nature is, you’ll have a bit of love for them, dan menyadari bahwa rasa telur penyu atau daging penyu tidak sepadan dengan mengancam populasi mereka.

TINGGALKAN KOMENTAR

Kirimkan komentarmu
Silahkan masukan nama anda