“Ubur Ubur Itu Lucu Buat Diliat Aja,” Statement Ini Sangat Benar Kalau Anda Sering Berenang Atau Menyelam Di Laut. Saya Ingat Beberapa Kali Menghindar Dari Rombongan Ubur Ubur, Terutama Yang Berukuran Kecil Karena Sulit Dihindari. Saat Kena, Akhirnya Pasrah Tersengat Dan Pulang Dengan “Oleh Oleh” Luka Luka Memerah Di Badan.

via http://marischkaprudence.blogspot.co.id/

Ubur ubur memiliki tubuh yang sangat halus, 96% komposisi tubuh ubur ubur adalah air dan makhluk ini tidak memiliki bagian keras di tubuh untuk melindungi diri sehingga untuk bertahan dari ancaman predator, ubur ubur memiliki sistem pertahanan berupa sengatan.

Hampir semua jenis ubur ubur memiliki sengatan dengan nematocyst (semacam kapsul dengan racun yang saat bersentuhan akan memicu injeksi racun). Akibat sengatan inipun beragam, dari hanya sekedar gatal dan kemerahan, hingga kematian. Inilah sebabnya ubur ubur selalu dihindari saat bertemu dengan mereka di laut.

Pintu masuk Danau Kakaban via http://marischkaprudence.blogspot.co.id/

Namun ada lokasi di Kepulauan Derawan dimana anda dapat merasakan menjadi Spongebob yang dengan riang gembira tertawa meski dikelilingi ratusan ubur ubur.

Danau Kakaban adalah rumah bagi empat jenis ubur ubur yang tidak menyengat. Yap, danau ini terbentuk dari pergerakan lempeng bumi yang membuat bagian laut terangkat menjadi pulau atol (Pulau Kakaban) lengkap dengan danau dimana spesies ubur ubur terperangkap di dalamnya. Karena “terkurung” di dalam danau tanpa predator, ubur ubur ini kehilangan daya sengat. Secara fisik ubur ubur di Danau Kakaban persis seperti ubur ubur lainnya, hanya saja tidak menyengat.

via marischkaprudence.blogspot.co.id

Saya tidak sabar saat berjalan menyusuri tangga kayu menuju Danau Kakaban. Bayangan berenang di antara ubur ubur tidak menyengat adalah salah satu impian saya. Tiba di dermaga kita sudah dapat melihat ubur ubur berwarna krem merah muda berseliweran, semakin mengundang untuk masuk dan bermain dengan mereka.

Usually avoid them in the sea but in this lake, they’re our friendly fellas! via http://marischkaprudence.blogspot.co.id/
Dive a bit and see the jellyfish with trees as background, beautiful! via http://marischkaprudence.blogspot.co.id/

Empat spesies yang ada disini adalah Aurelia Aurita yang berwarna bening dan bulat pipih, Tripedalia Cystophora yang berukuran kecil, Cassiopeia Ornata yang merupakan spesies khas di Kakaban karena selalu dalam posisi terbalik, serta Mastigias Papua yang jadi favorit saya karena bentuknya seperti ubur ubur di Bikini Bottom 🙂

Danau Kakaban ini cukup besar, di area sekitar 20 meter dari dermaga, dasar danau sudah cukup dalam, lebih dari 25 meter. Namun di area tengah inilah anda bisa melihat ubur ubur berkumpul banyak sekali. Jika matahari sedang cerah, ubur ubur ini akan naik ke permukaan untuk berfotosintesa, namun sayangnya saat saya datang cuaca sedang mendung sehingga cukup sulit mendapatkan foto ubur ubur berkumpul di permukaan.

A bit turbit down the lake, but we can still see jellyfishes everywhere via http://marischkaprudence.blogspot.co.id/
Curious fishes on the lake, they don’t eat the Jellies though via http://marischkaprudence.blogspot.co.id/

Di area danau pengunjung tidak boleh memakai fin karena kibasan fin dapat melukai ubur ubur. Selain itu, jika ingin menyentuh ubur ubur ini lakukan dengan lembut, rasanya seperti memegang agar agar yang hidup, membuat saya tersenyum kesenangan.

Di dunia ini hanya ada beberapa lokasi yang memiliki danau dengan ubur ubur tidak menyengat, yaitu Palau di Mikronesia, Danau Kakaban dan Danau Haji Buang di Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, serta salah satu danau di Raja Ampat yang belum didata secara resmi.

Too bad Jellies in Kakaban isn’t big enough to ride ha! Source image: via interiormall

Dari empat lokasi itu rupanya Indonesia punya tiga danau dengan ubur ubur tidak menyengat. Tidak perlu paspor untuk sedikit merasakan menjadi Spongebob di Bikini Botton, do you agree Patrick?

NOTES:

  • Danau Kakaban terletak di Pulau Kakaban, hanya sekitar 20 menit naik kapal dari Pulau Maratua di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur.
  • Waktu terbaik mengunjungi Maratua antara lain di bulan Maret hingga Mei, setelah bulan Agustus, awal bulan Oktober. Sementara di Akhir Oktober biasanya sudah memasuki masa sering turun hujan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Kirimkan komentarmu
Silahkan masukan nama anda